Sebuah Fiksi; "Baik Saja Tidak Menyelamatkan Nababan"'
(cat: pemenang fiksi pendek acak-adut award 2014--forum penggiat literasi tukang ojek & pekerja informal Cibinong dsk. Tertahan selama 8 bulan di Kompas ?? Dan dibutuhkan seorang pengasuh rubrik kebudayaan lakpesdam NU untuk 'mengenyahkannya. Mengingat kesulitan beban hidup dengan tanggungan & profesi dari "steering commite" pekerja informal forum acak-adut maka belum bisa dipastikan apakah ini fiksi kibul, rekaan atau sungguh terjadi, akan tetapi dipastikan jika terjadi itu hanya kebetulan yang direkayasa)
Kembali dalam antrian itu saya harus mengalami penyiksaan ! Dengan awas-awas menunggu dan menoleh untuk memastikan ketika terpanggil, itu akan terlewat, itu akan mendadak dentuman dari sapuan puting beliung begitu saja ! Apa pasal yang memangkelkan dan menyiksa ini terus berlangsung ?
“Zairi Nurim”
“Hilman Futir”
“Nurlela”
“Burhan Musya”
“Maesya Winardi”
“Aris Sugondo”
“Hiatun Mu’mat”
Antrian foto yang memastikan kelayakan saya menyandang kartu identitas dan tanggung jawab yang pribadi, sebagai mahasiwa tingkat dua dijurusan umum untuk informatika. Hal yang memang tidak akan terhubung dengan penjelasan jikalau tertera dengan identitas saya. Gerutuan saya dalam menunggu lebih disadari sebagai siksaan. Selalu menerawang jikalau ini adalah soal menuntaskan yang pribadi, hingga hanya memandangi langit-langit karena takdir yang mencoba untuk membuatnya menjadi kembali hanya persoalan biasa.
Dulu-dulunya, selalu ada orang tua. Bapak saya yang tentunya memangkelkan perasaan ini, dengan panggilan “Idak” menjadi nama lain yang tertera. Saya telah mengalami cukup banyak, semacam keheranan yang standar, persis keheranan saya yang menyaksikan betapa pada musim liburan sekolah ini tiadanya anak-anak yang main layangan. Betapa anak-anak yang harusnya main layangan ini juga mengapa harus berkerumun di kantor kecamatan. Ditambah lagi protes dari keluarga, semacam ketidaklaziman pemberian nama. Akan tetapi bapak saya seakan menumbuhkan perasaan kesal yang tidak terkira untuk sengaja. Dimana akan selalu saya tanggung dikemudian hari, sehingga jangankan keheranan ketika anak-anak berkumpul di kantor kecamatan karena seharusnya ada kegiatan yang lain. Maka, saya memastikan jika main layangan pun bapak saya tidak bisa ! Sehingga, untuk memikirkannya akan selalu terbayang dan teganya memberikan itu kepada saya.
Saya tidak bisa berganti posisi, juga memastikan jika ada yang mengenal itu sedikit akan membuatnya menjadi biasa dan terlewatinya waktu menunggu. Tetangga ataupun kenalan. Deretan penunggu dengan keasyikannya, baik di bangku berjejer, hingga yang berdiri merokok. Suami istri dengan sisuami yang disibukan mengendong pada penjaja mainan disebelah kiri tangga. Akan membuat saya semakin larut dalam keasyikan melihat yang memang sesaat. Tapi tetap saja awas-awas untuk mendengar.
Bapak saya, tentu sangat berkeinginan ada yang khusus untuk nama saya. Merasakan pengalaman yang berbau keunikaan dan keaslian, mungkin ? Maka itu sedikitnya berlaku bagi dua adik perempuan saya. Saya tidak akan cukup untuk mengingat-ngingat dan akan terlalu lama. Akan tetapi ini sungguh kecemasan yang menjadi-jadi. Kecemasan yang berhimpun dalam keramaian.
“Halo langsung aja turun kebawah, yang pojokan”
Bapak tua yang cukup awas dalam menunggu, menjawab telepon langsung.
“Ngga usah pake KK, iya cepetan ya”
Dengan memperhatikan jam untuk terkesan adanya kegiatan dalam menunggu. Maka pojokan sisi teras mushola kecamatan yang kecil itu kemudian baru saya sadari, dengan harus hormat dan hati-hati memperlakukannya.
“Farida”
“Abdul rozak”
“Herman Karta Wiguna”
“Entih Supari”
“Deden Muhrod”
“Eva Karta Wiguna”
“Nilma Witarto”
Adalah lama dan giliran dalam mempersiapkan. Sisi tegang untuk siap menanggung. Dan tidak ada percakapan yang saya bisa libatkan. Sinis karena menunggu, sementara pikiran saya terus berkelebat menunjukan timbunan kemangkelan-kemangkelan.
Bapak saya, merespon sebuah kesan dengan mengabadikan untuk saya. Setelah adik perempuan saya di ujarkan “Citra Indah Nababan” dan “ Helaian Magenta Nababan” kesan yang berdekatan dengan, akan tetapi mengapa untuk saya menjadi berbeda ? Tentunya saya yang mengawali. Sebagai yang sulung ! Mengapa diniatkan sebagai sebuah kesengajaan ?
Sebuah nama ataupun deretan nama adalah untuk dikenang. Adalah yang dikenali dan ditandai. Bapak saya ingin mengenang dan berkesan akan sebuah penjelasan. Lebih tepatnya semacam ingin mengecilkan. Saya cukup sadar akan maksud yang mulia ini. Ditandai sebagai pesan bahwa ada ketidaklaziman untuk menyadari kekurangan. Dalam kehidupan yang mencirikan sebagai pesan keyakinan, maka manusia pada dasarnya mengupayakan hal yang pada dirinya baik. Okelah, dengan tambahan bahwa itu tidak mencukupkan. Karena dipikir-pikir sebuah pesan akan menjadi tidak umum yang memang dengan khusus dikenali.
Saya yakin ini seperti penjelasan motif keagamaan. jadi perenungannya mengaitkan selalu aktivitas kami yang selalu ke gereja, setelah bapak saya meninggal 3 tahun lalu, Dia tidak lalai untuk menyiapkan bekal keuangan bagi pendidikan saya. Uang pensiun pegawai Departemen Perhubungan ternyata menghidupi, hal mana dia selalu tidak betah untuk bekerja. Ketidakbetahan dalam kepegawaian yang memang terbukti, dengan semangatnya yang berbeda terlebih itu dikenali dengan menamai saya.
Hal yang harus terlewatkan dengan beban yang tetap pada saya, ketika secara baku nama saya sudah tertera di akte kelahiran. Dan setiap berurusan dengan penjelasan nama saya. Bapak saya tampaknya puas, ketika keheranan ditujukan. Selalu ada percakapan panjang, yang seharusnya bisa dilewatkan. Dalam daftar ulang di sekolah menengah pertama, melengking dalam suara panggilan. Dimana dalam antrian, bapak saya menyambangi keheranan pada meja pinggir dari tata usaha administrasi, kemudian dengan senyum yang seolah tidak ada yang salah membuat rampung administrasi pendaftaran tersebut.
Senyum dengan tidak ada yang salah, karena meyakini bahwa pesan dari yang diupayakan sebagai kebaikan tetap mengalami hal yang tidak cukup. Pesan yang memangkelkan hati, sekalipun diniatkan dan berkesan dari pemberinya yang artistik tetapi meninggalkan penderitaan bagi saya selanjutnya.
“Irfan Maulana”
“Rosdiana Fakih”
“Sulaeman Akib”
“Ningsih suwita “
“Sumiati”
“Janarto”
“Roha Tambunan”
Dan memang sebuah deretan yang panjang akan menjelaskan banyak hal, kebaikan-kebaikan yang tidak beruntun kita hadapi. Apa maknanya selain cuma keheranan ? Kebaikan haruslah diupayakan, berbuat dengan kebaikan selalu menjadi pesan dari nilai –nilai yang ditunjukan dari umumnya kita beragama. Kita beragama, yah kita berbuat baik. Tapi semacam keheranan apa yang bisa mengganggu bapak saya ? Iman keluarga kami kah atau dia melihat yang lain ?
Adakah seruan protes dari manusia yang bisa dikenal baik akan tetapi dengan tetap menjadi egois. Menjadi hanya baik pada dirinya sendiri, ketika yang terjadi banyak obyekan dan perputaran keuangan di tempat bapak saya bekerja, selalu melibatkan orang-orang yang baik. Dan bapak saya cukup bisa bertahan, dengan mengorbankan sesuatu yang adalah keunikan untuk menamai saya. Perasaan yang sensitif untuk menjelaskan keadaan yang umum semacam protes dari keadaan yang dihadapi.
Bahwa menjadi unik dan selalu membuat saya tersiksa, dari teman saya mustofa yang kebetulan kami menempuh kuliah bareng. Beberapa yang lain yang tidak dateng ke tempat ini, mereka cukup memaklumi. Adalah juga keunikan yang ditandai karena telah mengenal dan sedikitnya tahu akan kesan yang ingin bebeda untuk ditampilkan. Pengenalan yang sadar ketika membuahkan pesan yang memang menjadi tidak lazim.
“Sri Retno Kustiyah”
“Mujrani”
“Juanda”
“Ucu Suhaya”
Sayapun harus bergegas karena memastikan hal ini adalah ? Tepat saja !
“Baik Saja Tidak Menyelamatkan Nababan ”
“iya !”
Cibinong, 30 Januari 2014