Ada begitu banyak jalan perlintasan atau yang dianggap memotong dan menghubungkan, akan tetapi mengapa jalan ini terasa ingin selalu ditelusuri. Kesannya memang bisa sangat macam-macam dan saya, semoga tetap bisa untuk tidak memberi informasi detil; membuat jalannya menjadi kesan yang melankolis—setidakmya ada tetangga yang melabeli demikian dan mengapa itu terkesan baginya ketika bertemu dan hanya menceritakan, untuk jalan ini adalah kesan dan juga gambaran besarnya.
Tapi bisalah itu ditilik beberapa karakteristik, mengambil jalan pintas untuk tidak berbalik ke jalan ramai setelah mengisi bahan bakar minyak; adalah bensin sebagaimana lazimnya penikmat subsidi. Maka arah penentunya untuk pulang, mengambil belokan kearah jalan lain yang tetap dalam satu jalur – tidak diartikan berbelok dengan menelusuri kompleks pengembangan dan penelitian, megah ! Terhampar luas dan berbagi keterpisahan, adanya pemisah setelah juga punya nama baru dengan pagar besi yang mengelilingi. Nama yang disematkan untuk pusat pengkajian rumpun Bioteknologi, pasti menyimpan hal-hal yang berbau kehayatian. Bahwa nama baru yang disematkan adalah nama Proklamator, yang dengan gegap gempita membawa kemajuan dan memerdekakan. Wajar dan masih belum mengerti akan nama baru tersebut, seorang yang mempunyai kemampuan orator dengan pengembangan tumbuh-tumbuhan, dengan Bioteknologi, ciri dalam keanekaragaman hayati yang melimpah ini terkait dengan kemampuan orasi ?
Inilah yang sekarang membatasi—dari Komplek Riset dan Pengkajian tersebut yang tidak bisa dimasuki umum dan operator proyek dengan alat beratnya masih belum berhenti, hingga pada sebuah titik jalan mengambil ke kiri. Juga dengan temboknya yang terbuka, kali ini memang bukan besi tapi dinding dengan cor-coran, pasti juga dengan seadanya berdiri yang justru telah membuka diri—belakangan diketahui bahwa itu adalah buah tangan lembaga riset pengkajian kehayatian yang megah itu, lazim dengan nama baru juga dikenal dengan “BRIN” (Badan Riset Inovasi Nasional) dan spesifik untuk bagiannya yang berkonsentrasi pada tumbuh-tumbuhan dan kehayatian untuk adanya inovasi. Inovasi dengan adanya kemampuan orasi—karena dari nama tokoh orator ?
Dengan hanya menelusuri sedikit, karena memang perlintasanya yang sudah dipisah, dalam beberapa belokan dan kembali tidak ingin menyebutkan spesifik. Adalah jalan terhubung yang akan membawa kearah pulang. Penelusuran dari jalan pulang yang ingin, selalu dilalui karena memberi kesan setelah mengisi bensin bersubsidi bisa dianggap sebagai jalan kampung. Bahwa adakah pemisah dengan keadaan rumah yang berada di komplek ? Memang tidak ketara adanya pemisah, ketika justru diarea jalan kampung yang memang tidak ketara penamaan karena sambungan dari 2 jalan besar, yang satunya sangat rusak—bahwa tertatanya rumah-rumah dengan tetap tersedianya pekarangan yang seperti berada di komplek perumahan dan sejenisnya.
Memberi kesan untuk tidak adanya warga atau orang yang baru, semacam dinamika yang membuatnya berubah ketika pernah ibukota seperti Jakarta dalam periode tahun 70-an yang telah lewat, dibenahi dan berkesan sebagai daerah yang dituju untuk minat urban dari daerah. Dengan berseloroh dan memang menyoroti fakta yang ada; selorohan akan ketidaklayakan jakarta, Gubernur legendaris Ali Sadikin menyebut sebagai “kampung besar” bukan apa yang menjadi kapasitas sebagai “Kota Besar”, kapasitasnya dari apa yang nampak sebagai perilaku dari kampung asal yang tetap terbawa. Perilaku yang terkesan kurang tertata, kurang teratur hingga tentu tuduhan kurang terdidik justru menjadi sirna pada potongan jalan menuju pulang dijalan kampung ini, dengan sepintas bisa berkesimpulan seperti itu.
***
Baiklah saya harus kagum dengan Padi Gogo ! Jenis dari, saya harus menyebutkan varietas makanan pokok dengan sedikit kebutuhan air yang memang penanamanya bisa didaeah-daerah kering; sejenis padi ladang dan rumah penyedia tanaman itu beserta kebun percontohannya tidak berpembatas pada apa yang nampak sebagai kebun atau area penanaman, dengan menghampar di kiri dan kanan bersama tanaman lain dan penjelasan pada karton putih akan penanggungjawabnya. Kekaguman akan daya tahan dan terasa unik, juga ketika yang bertugas menjaga, juga dikatakan mengurusi dengan pengawasnya— atau bisa dikatakan atasannya yang sempat bertemu, justru ternyata asyik menceritakan kisah yang lain.
Rasa ingin tahu dan mengumbar ketakjuban karena ada tanaman padi yang bisa tumbuh justru bukan diarea seperti sawah. Akan tetapi ini telah lama ada sebenarnya dan tidak terlalu berkembang dalam keilmiahan yang canggih—semisal rekayasa genetika yang ketika mencari tahu lebih rasanya terbatas dan tidak direspon oleh si Penjaga tersebut dan tidak bisa bertanya jauh juga ke si Pengawas Penjaga tersebut. Karena memang ada kisah yang lain dari peran dan keberadaan si Penjaga untuk menghalau burung-burung pemakan padi.
“ Benar Pak yang paling ngeri tuh ribuan, wah banyak deh. Beneran itu mah nggak bisa diusir !“
Menceritakan dengan sungguh akan hama tikus yang menyerang padi yang sudah bersiap untuk panen dikampungnya di daerah Brebes.
“Saya benar, sampai ngomong tolong tinggal ini panen saya. Tolong jangan diganggu. Mungkin situ tidak akan percaya ya, tapi ini kejadian benar, langsung berhenti itu yang pada makanin Padi”
Sebuah cerita ketidaksanggupan bukan sekedar mengusir burung dari lahan petakan kering—karena memang luasannya untuk penanaman yang tidak besar dan hanya bersifat sebagai percontohan.
Cerita yang tentu tidak terakomodasi bagi keberadaan Lembaga Riset Pengembangan, lembaga megah penelitian dan sekarang telah menjadi sungguh sangat megah dan terputus dengan warga yang berada diseputarannya. Sebuah area lain yang tidak bisa melihat capaian. Kira-kira riset apa ya ? Sekedar rasa ingin tahu yang dirasa tidak tumbuh dari warga sekitar ? Karena ini harus benar-benar terputus. Juga warga sekitar yang entah sudah berapa lama hanya bisa membeli Padi, membuat tidak berkutat dengan pengelolaan kebun dan sejenisnya seperti sawah juga nyaris susut, karena untuk sawah hampir telah tergantikan, tidak ada dengan amatan penelusuran sepanjang jalan dan yakin juga diarea sekitarnya.
Dan ini jadi bagian yang melingkar dari area lembaga riset megah itu—dibeberapa bagian memang pekerjaan proyek seperti tidak ada habisnya. Seakan apa yang sudah bagus, juga modern ingin dibuat lebih bagus lagi tentu dalam amatan apa yang dianggap bagus menurut otoritas dalam lembaga riset megah milik negara tersebut.
Jika amatan negara terhadap riset yang akan menggali segala potensi yang tersedia dan juga memberi kebijakan adalah tergantung siapa yang berkuasa—dengan kesannya yang berkuasa ini ingin terasa meninggalkan jejak. Dengan jejaknya akan capaian yang semakin memudahkan, atau juga capaian dalam menyusun kerangka berpikir yang tentunya berbeda dari sekedar meyakini. Karena lembaga riset pasti mengatur soal disiplin berpikir, ketika juga dalam era yang bisa merapikan dan membuat canggih komplek penelitian ini juga secara terpusat memberikan—tepatnya menganugerahkan gelar Guru Besar kepada pimpinan lembaga politik dari partai berkuasa. Tentu ada capaian untuk tetap berkuasa menjadi pimpinan puncak di partai penguasa dengan sangat lama, nyaris juga seumuran dengan partai tersebut. Bahwa yang lain untuk sebuah partisipasi dalam keterlibatan menghadapi Pandemi global yang bisa dikatakan sedang atau bahkan telah teratasi ini memang dimaklumi tidak bisa merespon dengan kecanggihan; memakluminya tentu biarlah pandemi virus global yang membuat pembatasan yang bisa sangat ekstrim ini, juga menyoal virus penyebabnya yang bisa bermutasi dengan ingatan akan korban jiwa yang bisa sangat banyak tersebut dan hal-hal horor lainnya biarlah menjadi urusan negara-negara yang bukan hanya dikenal dengan perguruan tinggi berorientasi riset akan tetapi juga memiliki anggaran yang sangat besar, bahkan teramat besar secara nominal dan bukan semata persentase.
... Tapi kali ini soalnya tidak bisa jauh, karena berkesan hanya perlintasan jalan.
JPS
16022023
Dukung Terus